2013-10-08    00:00:00   Dibaca : 1878 x

RAPAT KOORDINASI PENYUSUNAN ANGGARAN KEGIATAN TAHAPAN PEMILU

Share :

Menjelang Pemilu 2014, KPU selaku penyelenggara pemilu dituntut untuk semakin kreatif dalam mengajak generasi muda berpartisipasi dalam pemilu sehingga dapat mengurangi praktik golput pada Pemilu 2014 nanti, mengingat  generasi muda sangat selektif dan aktif di media sosial.

Terkait dengan besarnya potensi media sosial dalam pemilu, maka Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta,  kemarin malam (7/10), menyelenggarakan Pendidikan Pemilih  dalam bentuk diskusi dengan tema  “Pemilu di Mata Generasi Digital”.

Diskusi ini dipimpin oleh Lia Toriana (Program Officer: Youth Program Coordinator Transparency International Indonesia) dengan  narasumber  antara lain Yunarto Wijaya (Direktur Riset Charta Politika), Arief Rakhmadani (pakar media sosial), dan M. Sidik (Ketua Pokja Pemutakhiran data pemilih KPU Provinsi DKI Jakarta).

Dalam kesempatan ini,  M. Sidik mengungkapkan bahwa dalam setiap pemilu, pemilih adalah bagian terpenting. Oleh karena itu data pemilih yang benar-benar akurat adalah sebuah keharusan. Terkait dengan masih ditemukannya pemilih ganda dalam data pemilih, KPU masih mencari formula yang paling tepat untuk membersihkan data pemilih dari data ganda, sehingga KPU bisa menyediakan data pemilih yang bersih dari data ganda, namun tidak menghilangkan hak pilih warga negara.  

Yunarto Wijaya salah satu narasumber yang mengusung tema “Politik, Pemilih Muda dan Golput” mengatakan bahwa ada 3 (tiga) jenis golput di Indonesia yaitu golput administratif (data pemilih, kartu pemilih), golput teknis (apatis, momentum) dan golput politis (sadar untuk tidak memilih).