2013-10-27    00:00:00   Dibaca : 1904 x

Rekap Tungra Perkelurahan Pemilu 2012

Share :

kpujakarta.go.id - Meningkatnya peran serta masyarakat, khususnya pemilih pemula pada pelaksanaan pemilu 2014, akan sangat menentukan kualitas pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Kampus dari segi jumlah dan pengaruh sangat strategis. Karena mereka adalah orang-orang yang memiliki tingkat pendidikan lebih baik dibanding dengan warga bangsa yang lain, karena kampus menjadi tempat berkumpulnya para pemilih rasional. Hal ini menjadi bahan diskusi “Mahasiswa dan Pemilu Penentu Masa Depan”, di Universitas Yarsi, Jakarta Pusat, Sabtu (26/10).

Hadir dalam diskusi tersebut adalah anggota Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta Mohammad Fadlilah, Koordinator Nasional JPPR Affifudin, dan Peneliti Perludem Khoirunisa Agustyati.

“Pemilih selayaknya menjadi pemilih cerdas. Pemilih cerdas akan memilih pemimpin berkualitas,” kata Fadlilah.

Fadlilah menegaskan tingkat partisipasi pemilih akan berpengaruh terhadap legitimasi pemimpin. Legitimasi pemipin ini menurut Fadlilah yang kemudian juga akan berpengaruh pada tanggungjawab pemipin terhadap rakyat yang sudah memilihnya.

Menurut Fadlilah anak muda memiliki pemikiran kritis sehingga dia dapat menjadi pemilih yang cerdas. Dengan demikian, calon yang terpilih adalah calon yang berkualitas.

“Mahasiswa penting dalam mengawal demokrasi di Indonesia agar berkualitas, termasuk pemilu. Karena pemilu adalah bagian dari demokrasi,” tutur Fadlilah.

Khoirunisa mengatakan untuk dapat mengetahui calon legislator atau pemimpin mana yang akan dipilih nanti, dapat melihat riwayat hidup dan jejak rekam siapa caleg tersebut. Ninis juga menegaskan, dengan pentingnya suara anak muda ini maka dalam menggunakan hak pilih pastikan pemberian suara merupakan cerminan pilihan pribadi bukan karena tekanan siapapun.

Selain penting untuk menggunakan hak pilih pada hari pencoblosan, Affifudin juga menekankan pentingnya pengawasan proses pemungutan dan perhitungan suara.

“Pemantauan itu penting untuk memunculkan psikologi ketakutan melakukan pelanggaran bagi parpol, kandidat dan penyelenggara. Maka yang paling potensial itu mengajak mahasiswa untuk memantau,” tegas Afif.

Menurutnya, sinergi dari kekuatan masyarakat sipil itu dapat terus mengawasi dan memantau proses pemilihan umum ini.