2017-01-30    21:35:00   Dibaca : 1916 x

SIMULASI PEMUNGUTAN DAN PENGITUNGAN SUARA PILGUB DKI 2017 DI PULAU PANGGANG

Share :

kpujakarta.go.id -   Dua pekan menjelang hari H pemungutan suara, KPU DKI Jakarta terus melakukan persiapan secara matang. Diantaranya menggelar simulasi pemungutan dan penghitungan suara di TPS di sejumlah tempat. Salah satunya digelar di Pulau Panggang, Kabupaten Kepulauan Seribu, Senin (31/1/17).  Hadir dalam Simulasi Anggota KPU DKI Jakarta Betty Epsilon Idroos dan Ketua KPU Kepulauan Seribu Sumarno serta komisonier lainnya.


“Kami lakukan simulasi pemungutan dan penghitungan sebagaimana kejadian sesungguhnya.  Dengan harapan nanti pada pelaksanaan dapat berjalan sukses. Masing-masing pihak dalam menjalankan peran sesuai dengan fungsi. Baik masyarakat sebagai pemilih, KPPS, pengawas dan saksi dari ketiga pasangan calon,” kata Sumarno  dalam sambutanya.


Betty Epsilon menambahkan, simulasi sangat penting dilakukan guna meminimalisir kesalahan pada pelaksanaan oleh petugas di lapangan.  Terdapat banyak perubahan peraturan sehingga petugas harus memahami perubahan. “Melalui simulasi tersebut KPU DKI Jakarta akan memiliki gambaran bagaimana cara petugas mengatasi masalah yang dihadapi di lapangan,” katanya.


Skenario simulasi dilakukan seperti kejadian pemungutan dan penghitungan suaraungguhan. Seluruh pihak yang terlibat dalam simulasi seperti  pengawas, saksi pasangan calon dan  7 orang anggota KPPS  serta pemilih dihadirkan seungguhan. Simulasi dilakukan di TPS 07  Pulau Panggang.


Dalam Sekenario  tersebut narasi dibacakan oleh Staf KPU DKI Jakarta Tri Rezeki dan korektor oleh Betty Epsilon. Diceritakan, pada pukul 06.00  Ketua KPPS  melakukan pemeriksaan  seluruh persiapan TPS, mulai dari akses disabilitas, Kotak Suara, alat kelengkapan lain,  visi misi paslon dan sebagainya.  Setelah seluruh persiapan lengkap, ketua KPPS lalu mengambil sumpah anggota KPPS.


Diceritakan dalam pemungutan suara itu, TPS 07 memiliki DPT berjumlah 107 pemilih terdiri atas, pemilih disabilitas, wanita hamil dan lansia. Simulasi juga menskenariokan, ada saksi paslon yang  datang terlambat pemilih ketika pemungutan  suara sudah berlangsung. Pada awalnya, Ketua KPPS tidak memperbolehkan saksi paslon masuk ke area TPS. Hal itu menurut Ketua KPPS itu sesuai arahan ketika bimtek. Namun, Betty mengkoreksi bahwa mesti terlambat saksi paslon diperbolehkan masuk.


“Saksi paslon adalah perwakilan calon yang ada di TPS. Jadi meski pun terlambat diperbolehkan berada di dalam arena TPS selagi yang bersangkutan memiliki mandat yang sah,” tegas Betty.


Dalam simulasi itu, juga memperagakan seluruh kemungkinan yang bakal terjadi di lapangan dan bagaimana cara mengatasinya. Diantarnya,  pemilih tanpa C-6, pengguna formulir A-5,  pemilih hanya menggunakan E-KTP tapi tidak ada di DPT. Juga sekenario pemilih yang ngotot ingin memilih meski tidak punya KTP dan tidak terdaftar di DPT. Simulasi diakhiri dengan penghitungan suara.  Seperti, penghitungan sesungguhnya, petuas KPPS menghitung satu demi satu paslon A, B dan C termasuk menghitung suara sah, suara rusak dan yang tidak sah.


Betty mengaku puas atas digelarnya simulasi yang mendekati kejadian sesungguhnya.  “Secara umum simulasi berjalan baik.  Saya melihat petugas sudah memahami tugas masing-masing. Semoga tidak ada masalah saat pemungutan dan penghitungan sesunggunya pada 15 Februari 2017, nanti,” tukasnya.


Sementara ketua Ketua KPPS 07 Ahmad Hakim mengatakan, simulasi sangat membantu petugas KPPS untuk dapat menjalankan tugas penung tanggungjawab. Dikatakan Ahmad Hakim, semoga melalui simulasi petugas dapat melayani pemilih, paslon dan pihak terkait dengan baik. “Simulasi  membuat yang semula ragu-ragu dalam mengatasi masalah akan lebih tegas karena ada pemahaman aturan-aturan lebih tegas,” pungkasnya.