2016-08-28    08:25:00   Dibaca : 1639 x

SOSIALISASI TATAP MUKA DENGAN PEMILIH DISABILITAS DI PANTI SOSIAL BINA LARAS HARAPAN SENTOSA

Share :
kpujakarta.go.id – Suasana meriah, gembira dan  spontan yang mengundang tawa sangat terasa pada acara  sosialisasi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa, Cengkareng, Jakarta Barat, Jumat (26/8).  Pesertanya sekitar 100 orang  penyandang disabilitas psikiatik terlantar dari empat panti di Jakarta Barat.

Acara  menghadirkan narasumber Anggota KPU DKI Jakarta Betty Epsilon dan Ketua KPU Kota Jakarta Barat Sunardi. Meski, peserta merupakan disabilitas psikiatik (baru sembuh stres), terjadi dialog interatif yang menyegarkan. Kelucuan  sepontan terjadi saat tanya-jawab seputar Pilgub DKI Jakarta.  

“Siapa yang ingin jadi gubernur?”  tanya Sunardi. “Saya pak,” jawab Rahmad Juanda, salah satu peserta dari Panti Sosial Bina Laras. “Gubernur mana?” timpal Sunardi. “Gubernur Jember,”  kata Rahmad Juanda.  Jawaban yang spontan dan polos itu mengundang tawa. Tapi dengan tetap senyum tanpa menyalahkan, Sunardi melanjutkan pertanyaan. Apa program sebagai calon gubernur?  Lagi dengan polos Rahmad Juanda menjawab, “swasembada pangan.” “Nah, sebagai pemilih kita harus tahu program calon gubernur,” katanya. Itulah  salah satu cuplikan dialog interaktif sosialiasi Pilgub dengan peserta disabilitas.

Betty Epsilon mengatakan, KPU DKI Jakarta akan memfasilitasi   penyandang disabilitas berupa kemudahan akses menuju TPS.   Bahkan,  KPU DKI Jakarta juga berencana membuat TPS di lokasi panti agar penyandang disabilitas  mendapat kemudahan.

“Kami akan konsultasi dengan kepala panti apakah memungkinkan mendirikan TPS di dalam Panti,” katanya.

Betty menegaskan,  KPU DKI Jakarta memberikan sosialisasi kepada penyandang disabilitas psikiatik jalanan lantaran  sudah memiliki hak pilih. Meski tinggal di Panti Sosial, kata Betty, mereka memiliki identitas berupa KTP.

Kepala Panti Laras Sentosa Sarimah menjelaskan, memiliki warga binaan kurang lebih 843 orang, 60 orang diantaranya masih dirawat di rumah sakit jiwa di Grogol, Jakarta Barat. Seluruh penguni panti yang menjadi warga binaan berasal dari jalanan yang tidak diketahui keluarganya.

“Di Panti mereka dapat melakukan aktifitas seperti biasa, misalnya olahraga, memasak, beribadah dan sebagainya.  Oleh karena itu,  mereka punya  hak untuk memilih. Kami akan dukung penuh bila KPU DKI Jakarta akan membuat TPS di lokasi panti,” pungkasnya.